Selasa, 13 Juli 2021

Lama dianggurin

 *ngelapin debu dan sarang laba-laba*

blog yang udah aku tinggal selama ,t u j u h t a h u n, woiii itu kalo nyicil rumah udah kelar se-pancinya. Terakhir aku nulis masih jadi anak SMA smester akhir, masih tentang kegalauan masa sekolah. lah emang sekarang nggak galau ? ya jelas lebih galau hihi . Ngga tau tiba-tiba pengen curhat aja disini, lebih tenang ngga ada yang kepo (mungkin)


Jadi hidupku dimulai dari setelah aku lulus SMA tahun 2014.


Obsesi banget buat masuk PTN, sampai ikutin semua test yang masih ada. Akhirnya ngga ada yang nyantol, terus aku frustasi putus asa kaya gaada gunanya hidup. Aku memutuskan untuk menunda kuliah, biar tahun depan biar bisa masuk PTN.  Yaampun ini salah satu kebodohan  yg aku sesali di hidup aku ehehe. terlalu berharap sesuatu dan tidak melihat peluang yg ada.

Aku merantau ikut kakaku di kota lain, disana ikut kerja rias manten dll. Selama kurang lebih 6 bulan 



»»  READMORE...

Rabu, 22 Januari 2014

Dihabisi Waktu

Hari ini tinggal 80 hari lagi menuju Ujian Nasional, seketika jantung berdegup kencang. Perasaan baru kemarin  daftar SMA terus pake seragam putih abu-abu. Belum juga kenal sama semua  temen se-angkatan, udah mau lulus aja. Padahal menjelang ujian SMP dulu, semua materi pelajaran udah keserap sama pori-pori otak. Tapi sekarang? berasa kena penyakit alzhaimer.. banyak memori yang udah kehapus, apa sengaja dihapus sama zaman aku juga nggak tau. Tapi setelah sharing sana-sini, ternyata bukan hanya aku yang mengalami ke-pikun-an ini. *tersenyum lega*
Dengan kita berada di depan TV dari subuh, bisa nggak nyadar kalo udah waktunya buka puasa. Dengan kita tiduran dan pegang gadget dari tahun baru, tau-tau udah agustusan aja. Banyak banget hal yang bikin kita nggak nyadar pergantian jam itu cepet banget. Aku jadi curiga kalo “waktu” itu minumnya Milkuat, bisa lari secepat ini.  Coba dari dulu aku serius belajar, pasti nggak akan sebuta ini. Sekarang baru ngerasain gimana dikejar, dihabisi dan dihajar sama waktu. Mau ngumpet nggak bisa, mau ngelawan juga percuma. Karna waktu belajar kita yang akan habis. Hih.
“Banyak kegiatan untuk menghabiskan waktu, namun jika terlena kita akan dihabisi oleh waktu.”
Udah tinggal 3 bulan mempersiapkan perang. Tapi masih banyak banget godaan yang datang. Masih ada yang nagajakin main, makan enaklah, vacation lah, bolos tambahan lah.. Untung di telingaku sebelah kanan ada yang selalu bisikin, “INI BUKAN SAATNYA BERSENANG-SENANG”. Kata orang “Kita kan masih muda, manfaatin dong buat seneng-seneng.” Oke, siapa sih orang yang nggak mau seneng diajakin cuci mata, travelling, belanja dll. Tapi nggak salah kan, saat ini puasa dengan semua kesenangan itu? kalo kata orang tua perihatin dulu, yang artinya perih batin. Menahan segala keinginan, demi sebuah keberhasilan. Karena aku percaya, bahwa Tuhan tidak melihat hasil seseorang, tapi proses untuk mendapatkannya. Jadi pengorbanan itu sangat perlu sob, jangan sampai menyesal dikemudian hari.  Masih banyak waktu kok buat bikin otak kita fresh. Setelah perang selesai  nanti, kita bisa cuci mata seeepuasnya.
Dan yang paling penting itu semangat dari hati. Aku pernah mengeluh ketika tambahan pelajaran sore.  “cepek banget deh ikut tambahan, belum lagi pulang pasti keujanan,  yang berangkat juga bisa diitung pake jari kaki, tidur di rumah aja enak”. Tiba-tiba ada Alien entah dari planet mana, yang pasti dia berpenampilan gembel  mendarat didepanku dan berkata . ‘’udah sabar aja, siapa tau yang mau ikut tambahan ini bisa naik ke podium!”. Mulai saat itu juga semangatku membara dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sekarang aku jadi  tambah semangat dan rajin belajar. Nggak pernah absen sekolah, maupun tambahan pelajaran. Nilaiku juga Alhamdulillah bisa naik. Semangat itu datengnya nggak harus dari pacar. Dari siapapun semangat itu, jika kita tanam pada hati maka lahirlah hasil yang baik.  Tuh perkataan alien manjur banget, aku doain besok gede jadi dokter, eh motivator.  Makasih ya Risma (baca;gembel) you are my hero.. *mot tium*
Kita harus segera menyiapkan bekal dari sekarang. Keberangkatan ke medan perang tidak akan lama lagi. Persiapakan semaksimal mumgkin, seperti bahan bakar otak yang terisi penuh, mental, kesehatan, contekan, pensil 2B dan gerotan. Jangan durhaka pada orang tua, jangan berbohong, jangan ngupil sembarangan,  dan jangan lupa banyakin berdoa. Sukses semuaaaa!!
»»  READMORE...

Senin, 09 Desember 2013

Mendekatlah

Ibarat sebuah buku, kau  adalah lembaran yang terlewatkan. Kini ku mulai sadar,  banyak cerita yang ingin kutuliskan. Kita sering bertatap muka namun tak saling menyapa, kita berteman namun sedikit kebersamaan. Apalah aku telah memandangmu sebelah mata. Maafkan aku, dan mendekatlah padaku..







 

-ditulis dengan rasa penuh penyesalan
»»  READMORE...

Senin, 17 Juni 2013

Sebuah Kesalahan Rasa.

Kebanyakan orang yang bergulat pada asmara, mengatakan bahwa cinta datang tanpa alasan. Tapi pada umumnya cinta datang karna sudah terbiasa. Dengan kebiasaan sering bersama, akhirnya lahirlah cinta, lahirlah sebuah ikatan dan janji saling setia. Seperti kisah temanku ini, Tisa dan Vino. Mereka teman satu kelas aku, Tisa sering menceritakan perjalanannnya dengan Vino. ‘’awalnya aku nggak ada rasa cinta sama Vino, setelah terbiasa bersama ya tumbuhlah cinta sampai sekarang ini.’’ Ingin rasanya mempunyai pasangan yang bisa saling menjaga seperti mereka.
Nggak heran kalo mereka berdua bisa pacaran langgeng sampe setahun lebih. Banyak kecocokan dan keserasian dari mereka. Mulai dari percakapannya, tingkah laku mereka, hingga pengorbanan yang mereka lakukan. Mungkin bukan hanya aku yang merasa iri jika melihatnya. Bukan iri karna sirik, tapi rasanya pengen bisa pacaran kaya mereka.
Sayangnya aku selalu gagal dalam menjaga cinta. Entah siapa yang meninggalkan, aku selalu tumbang dalam perjalanan. Tapi sekarang aku bersyukur, dipertemukan dengan seseorang yang menurutku hampir sempurna. Aku berharap kisahku tak seperti yang sebelum-sebelumnya. Dan benar saja, aku senang mengisi harinya pun juga dengannya. Aku bahagia bisa saling berjuang untuk menjaga komitmen kita.
Namun Tuhan tak menyetujui kebahagiaan kita, maka Ia menghadiahi  perpisahan.
Setelah itu aku kembali merawat luka, seperti biasanya. Tapi kali ini aku bakal susah lupa kalo tiap hari saja bertatap muka. Bagaimana tidak, kelas kita hanya barbatasan dengan diding. Beruntung punya teman-teman yang selalu memberi semangat, termasuk Tisa.
‘’aku kandas lagi Sa, tapi kali ini aku bener-bener ngerasa kehilangan.’’
‘’tenanglah, Bagas bakal nyesel udah bikin keputusan kaya gini. Jodoh nggak kemana nok.’’ Mungkin ada benarnya perkataan Tisa, aku harus tenang.

Kenapa harus berpisah sekarang, padahal masih banyak sekali planning yang belum terlaksana. Termasuk keinginan Bagas yg memintaku untuk menemani mendaki. Aku mulai tertarik dengan cerita saat dia berpetualang dengan alam. Aku memutuskan ikut, tapi nanti saat liburan sekolah. Biar aku persiapkan diri dulu.
Tapi semuanya sia-sia, saat hari itu tiba aku menggagalkan rencana awal. Aku tak mungkin melakukan perjalanan dengan orang yang bagiku sudah asing. Tapi teman-teman yang lain tetap berjuang. Bagas, Resa, Farhan akan merayakan anniversary Tisa dan Vino yang kedua di puncak Gunung Merbabu sana.
Sedangkan mereka berangkat, aku hanya menghujat diriku sendiri. Seharusnya aku disana, bersama mereka. Tapi ini kenyataan yang harus aku terima, Tuhan masih tak mengijinkan aku bahagia. Setidaknya dengan melihat landscape yang didapat dari atas sana sudah cukup menghibur. Apalagi melihat foto Tisa dan Vino, sampai kapanpun mereka tetap pasangan yang romantis…
Pasca sweet seventeen-nya Tisa semua berfikir, mau dikasih kado apa dia. Terutama Vino yang harus ngasih paling istimewa. Ternyata ia ngasih mukena sama boneka gede banget. Dia juga rela nggak tidur buat nyiapin surprice subuh-subuh kerumah Tisa. More than sweet..
Tak lama setelah kejutan istimewa itu, tiba-tiba badai datang menerpa. Pertengkaran dalam hubungan yang dibenci setiap orang kini dihadapi Tisa. Tak ada angin sebulum datangnya badai, semua terjadi tanpa sebab apapun. Vino mulai berubah, mungkin karena sedang bosan. Hal yang wajar pada sebuah hubungan.
Hari ini aku ditugaskan guru untuk mencari tugas di perpusatakaan. Saat aku tengah membicarakan Bagas dengan Gita teman sebangku ku, tiba-tiba Vino ikut bicara dengan nada lebih lembut dari biasanya. Dia mengejekku karna belum bisa move on, aku jawab saja sudah.
‘’emang sama siapa?’’  Tanya Vino begitu penasaran.
‘’move on nggak harus sama orang kali, selama kita udah mampu tanpa dia dan mampu melupakan itu namanya juga move on.’’  Aku menjawab dengan nada sedikit kesal.
‘’oh gitu, terus kenapa kalo udah bisa ngelupain nggak cari yang lain?’’
‘’capek. Kalo akhirnya cuma mau putus  aja ngapain juga pacaran.’’ Kepo banget nih orang.
‘’bener juga ya, kalo besok akhirnya dapet jodoh ngapain cari pacar.’’
‘’jangan gitu, kamu punya pacar yang harus dijagain Vin.’’
‘’bakal aku jaga sebisaku, kalo udah nggak bisa kan semua bakal indah pada waktunya..”
Aku nggak ngerti  tiba-tiba Vino ikut bicara seperti gitu, tatapan matanya juga berbeda. Ah paling cuma iseng dia, sampe situ saja aku berfikir.
Didalam pertengkaran mereka, aku mencoba jadi penengah. Mengembalikan keadaan seperti semula. Aku berusaha menguatkan Tisa setiap harinya. Tapi sudah lebih dari seminggu mereka saling tak memberi kabar. Ini sudah tidak bisa dianggap wajar.
‘’aku harus gimana nok, aku nggak rela kalo perjuanganku selama dua tahun berakhir kaya gini.’’ Tisa bicara dengan wajah memelas, matanya sudah berkaca-kaca siap menumpahkan airnya.
‘’semua belum terlambat untuk diperbaiki, lebih sabar Sa. Mungkin Vino butuh waktu buat kembalikan rasa.’’ Aku berusaha menenangkan hatinya.
Hingga tiba pada hari yang tak pernah diinginkan, dimana Vino menginginkan berpisah. Keputusan itu membuat hati Tisa lebih hancur dari rumah korban tsunami sekalipun. Aku bisa merasakan itu.
Sebuah perpisahan tak akan serumit ini bila perjalanan yang ditempuh belum terlalu jauh.
Mereka pasangan paling cocok, mereka pasangan terbaik. Lelaki memang begitu ya, setelah merasa bosan suka seenaknya saja bertindak.  Tapi kenapa perpisahan selalu menghancurkan semua mimpi? Tak pernah kutemukan jawaban. yang lama pacaran saja bisa putus, apalagi yang baru beberapa bulan. Aku hanya bisa menarik nafas dan kembali menghembuskan.
Setelah kesendirian menemani  Tisa, dia mencoba bangkit dan membesarkan hatinya. Bukankah setiap masalah pasti ada hikmahnya? Aku pun mempercayai itu.Tapi sebagai perempuan, tak bisa lepas dari sifat kepo-nya. Kita masih  mencari apa yang menyebabkan Vino berubah.
Aku mencoba membantu Tisa dengan mengintrogasi salah satu teman dekat Vino.
Aku mengatur strategi dan bertanya segala rupa sampai menemukan penyebabnya. Cukup sulit saat melakukan aksi tersebut, aku langsung menghubungi Tisa.
‘’aku nggak tau urusannya Vino apalagi tau dia deket sama orang lain. Dia bilangnya gitu Sa.’’
‘’tukan nggak mau ngaku, aku pasrah deh.. tapi aku mau tanya apa kemarin Vino sms kamu?’’
‘’iya tapi cuma minta nomer aja, terus aku ejekin kalo dia galau waktu muncak kemarin.’’
‘’berarti kalian smsan banyak dong?’’
‘’cuma dikit kok, santai nok aku nggak bakal ngapa-ngapa.’’
‘’iya sory sempet curiga, kan bisa aja Vino suka sama kamu…”
‘’kamu tu ngomong apa sih, ngawur aja..” duh ngajak bercanda nih anak.
‘’ini beneran Vino suka kamu tapi kamu nggak suka, udah aku nggak papa kok..’’
Apa maksutnya dia bilang kaya gini? Kalo bercanda nggak mungkin seserius ini. Ah mungkin itu anggapan Tisa saja.
‘’aku nggak mudeng sama yang kamu omongin sumpah.’’
‘’udah intinya Vino punya rasa sama kamu, kalo dia ndeketin tolong hargai ya…”
JEGERR!!!
Masih dengan mulut menganga, aku tak mampu berkata. Apa yang dibicarakan Tisa sama sekali tak pernah terfikir olehku. Jelas-jelas itu hal yang nggak mungkin terjadi. Pasti dia salah informasi, tapi…. Aku teringat satu hal. Apakah yang dibilang Tisa dengan sikap Vino yang aneh bebrapa waktu lalu itu berhubungan? Aku harap tidak.
Keesokan harinya aku tetap berangkat sekolah. Tapi lain dari biasanya, kali ini aku merasa bersalah pada Tisa yang kulihat matanya sembab sekali. Pasti dia tak bisa menahan air matanya keluar semalaman. Aku tau dia sakit hati pada Vino, tapi kali ini ada kaitannya denganku. Siapapun wanita yang sudah menggantikan prioritas Tisa, aku akan ikut benci padanya. Tapi sekarang, apakah aku harus membenci diriku sendiri?
Rasanya  ingin sekali terjun dari awak kapal pesiar, lalu meluncur sampai dasar dan mendapati kepalaku terbentur karang sampai ingatanku hilang. Melupakan segala keadaan yang membuatku tak nyaman , tentu bukan hal mudah. Karna kini aku berada di tengah-tengah mereka yang bertikai.
Tak ada yang bisa dipersalahkan pada hal ini, semua terjadi diluar kehendak hati. Inilah perasaan, sering kali datang pada waktu dan tempat yang salah. Tempat yang seharusnya kita sebut persahabatan, berubah menjadi rasa yang lebih dalam. Kesalahan rasa tersebut akan datang sewaktu-waktu, namun kembali pada kita bagaimana harusnya menyikapi.. 
»»  READMORE...

Senin, 10 Juni 2013

Tiga Sahabat

Dua mahkota bunga terlihat anggun dengan akar yang mencengkeram kuat pada sebuah batang pohon. Karena dalam simbiosis tak ada pihak yang rugi maupun dirugikan, mereka hidup berdampingan saling berbagi waktu dan tempat. Mereka tampak rukun sekali menjalani hari demi hari. Pemandangan itu nampaknya membuat iri banyak tumbuhan lain yang tidak bisa melakukan hubungan erat seperti bunga anggek dan pohon mangga itu.
Namun kedekatan mereka harus terhenti. Pemilik kebun menebang semua pepohonan karna lahan akan dijadikan tempat tinggal. Mau tidak mau pohon mangga harus pergi, meninggalkan bunga anggrek yang selama ini menemani. Dia memindahkan bunga anggrek pada sebuah pot, namun hidupnya kini tak sekuat saat bersama pohon mangga. mencoba bertahan dalam suasana baru, namun batang bunga terlihat semakin layu. hingga akhirnya si bunga pergi meninggalkan dahannya yang kering.
Seperti itulah gambaran ketiga sahabat yang dulunya tak terpisah, namun sekarang terpecah. Salah seorang pergi entah apa alasannya. Kehidupan yang baru telah merenggut kebersamaan yan selama ini terjalin. Kini hanya tersisa kenangan setelah semua memilih jalannya masing-masing .
Chika adalah seorang  gadis yang cantik, supel dalam berteman. Dia juga pintar, ramah, dan segalanya berkecukupan. Jadi tak heran banyak orang mengaguminya. Sedangkan aku dan Dhea adalah orang yang beruntung mendapatkan teman sebaik Chika. Kami menjalin pertemanan mulai dari kelas satu SMA.
Saat bertukar cerita, seantero jagad raya seakan milik kita bertiga. Saling mengulurkan tangan ketika salah seorang sedang terjatuh. Dan saling mengangkat tangan saat merayakan kesenangan. Tak jarang kami menetertawakan sesuatu, bahkan mungkin hanya kami yang tau dan menganggap itu lucu.
‘’Teett.. teeettt’’ bel sekolah berbunyi. Jam istirahat adalah waktu yang paling kita tunggu. Dimana perut sudah keroncongan, dan siap-siap memakan bekal dari rumah. Sambil menyantap makanan, kita saling tukar informasi dan bercerita segala rupa. Entah seputar pelajaran, teman sekelas ataupun tentang rival, semua berakhir dengan tawa.
Lalu ketika sekolah pulang awal, kita selalu menyempatkan diri untuk makan diluar. Selain itu kita juga pergi ke toko baju, belanja makanan, kadang ke salon juga untuk menghabiskan waktu. Obrolan hangat selalu menemani kemananpun kita pergi. Karena itu kita mencetuskan sebuah nama untuk kita sendiri yaitu Crigis. Yang artinya cerewet dan suka berbuat ulah.
Kalo pulang kita masih barengan, kebetulan Chika dijemput sama ibunya. Orangtua Chika itu baiknya minta ampun, kalo aku sama Dhea pulang kemaleman aja rela mengntarkan sampai rumah. Padahal rumah kami juga tidak dekat. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan mereka.
Ketika ada tanggal merah atau libur sekolah, aku Dhea dan Chika sudah ribut membicarakan planning yang akan kita datangi. Mumpung libur, biasanya kita keluar kota. Sekedar untuk menonton film di bioskop atau ke pantai bersama teman-teman lainnya.
Satu kebiasaan kami saat liburan yaitu itu naik becak. Jadi satu becak yang harusnya muat dua orang itu kita naiki bertiga. Salah seorang harus berada di tengah yang tempat duduknya lebih menjorok kedepan.  Karna yang didepan itu akan merasa malu, maka yang berada di tengah kita atur bergiliran. Malu tapi seru sekali.. Mengingat sekarang ini jamannya sudah naik taksi, atau sepeda motor. Tapi ada kebahagiaan tersendiri saat naik becak. Kalau tidak melakukan hal konyol bukan crigis namanya.
Ketika naik kelas dua, kita masih satu jurusan. Tapi kelas kita terpisah semua, ini gara-gara kebijakan sekolah yang lucu. Jika ada segerombol sahabat harus dipisahkan agar bisa fokus dalam pembelajaran. Kami sempat protes  namun usaha itu tak ada hasil. Tak apalah, kita masih bisa bertemu karna kelas kita berjejeran.
Tiap istirahat juga masih makan bekal bareng, kalo pulang  aku sama Dhea juga masih nebeng Chika. Hampir sejauh ini belum ada masalah karna berbeda kelas. Malah banyak yang iri dengan pertemanan kita.  Kita juga mulai akrab dengan Citra, kirana dan Karin, mereka teman satu kelas Chika.
Di kelas dua ini, sekolah akan menadakan study tour ke pulau dewata Bali. Tentu kita sudah menyiapkan segala perlengkapan dari jauh hari. Mulai dari baju, celana, makanan, koper dan sebagainya. Kita sudah tidak sabar untuk segera melakukan perjalanan.  Setelah satu bulan berlalu, akhirnya tiba pada hari keberangkatan. Seharusnya kita sudah muali packing dari pagi, tapi tak sedikitpun ada semangat setelah mendapat kabar dari Chika.
‘’besuk berangkat ke Bali, tapi aku malah sakit gini’’ aku terkejut membaca pesan singkat dari Chika.
‘’yaah gimana dong, masa nggak jadi iku?’’ aku mulai sedih memikirkannya.
‘’doain aja aku baikan ya, nanti jam 8 malam aku kasih keputusan besok jadi ikut apa enggak’’.
‘’iya, aku doakan yang terbaik’’.  Aku benar-benar bingung sekarang. Sakit radang usus tidak akan sembuh dalam sehari. Jika memaksakan Chika untuk ikut, sama saja kita membunuhnya. Tapi kalo nggak ikut, liburan kita akan sia-sia.
Aku tak berhenti melihat layar hp, jam digitalnya sudah menunjukkan pukul 8 malam.
‘’maaf aku nggak jadi ikut kalian, sakit ku belum membaik’’ aku tau dia menulis pesan ini bersama air matanya.
‘’kamu cepet sembuh ya..terus nyusul kita pake pesawat, terus kita seneng-seneng disana.’’ Aku mencoba menenagkan diri, karna hatiku mulai memberontak tak terima akan takdir ini.
Kenapa harus sakit sekarang? Kenapa nggak satu minggu setelah ini saja? Kita nggak akan bisa bersenang-senang tanpa Chika. Padahal liburan bersama seperti ini mungkin hanya sekali seumur hidup. Rasanya ingin sekali membatalkan keberangkatan, atau menundanya sampai Chika sembuh. Namun semua harapanku sia-sia, rombongan tetap akan berangkat esok hari. Inilah kenyataannya, diamana Tuhan sedang tak mengijinkan kita bahagia.
Pukul 07.00 rombongan bus dari SMA sudah mulai berjalan. Aku, Dhea, Citra akan segera meninggalkan Salatiga, dan juga Chika. Sedih sekali menyisakan satu bangku yang seharusnya ditempati oleh sahabat kita. Ini lebih sakit dari berpisah dengan kekasih, maka aku tak dapat menghentikan tangisku. Bukan hanya aku, semua membutuhkan Chika disini.
Rasa capek setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh, terbayar oleh  indahnya sun rise di Tanah Lot. Namun tak seindah jika Chika ada disini, kita tak harus menkhawatirkan keaadannya setiap waktu. Untuk membunuh rindu padanya, kita mencoba menelepon. Meskipun tangis meledak setelah mendengar suaranya, setidaknya kami sudah merasa lega.
‘’nikmati saja nok, kita masih bisa bahagia dengan teman yang lain’’. Dhea berusaha menguatkan ketika aku masih saja bersedih. Meski bahagiaku tak sempurna, aku bisa melewati sampai hari terakhir. Saatnya kembali ke kota Salatiga diiringi hati yang mulai ceria.
Kita segera melepas rindu dan memberikan buah tangan untuk Chika. Mengingat perjuanganku dengan Citra untuk mendapatkan buah tangan itu, rela berebut nafas dengan ribuan orang sampai mau pingsan. Semoga Chika senang menenerimanya.
Beberapa bulan setelah itu, kami masih baik-baik saja. Kita semakin dekat juga dengan Karin, Citra dan Kirana karena sering main ke kelas Chika. Banyak teman dekat seperti ini kan lebih baik pikirku.
Tapi ternyata diagnosaku salah, dunia mulai terasa berbeda sekarang. Aku mulai merasa kehilangan topik bicara saat bersama mereka. Aku ikut tertawa, tapi aku tak mengerti apa yang ditertawakan. Aku seperti orang gila disini, mulai dianggap sebelah mata. Seperti orang asing yang baru mengenal mereka.
Aku bilang pada Dhea ‘’aku rasa kok Chika sekarang berubah ya, semakin dekat dengan mereka’’. Ternyata bukan aku saja yang merasakan, Dhea juga merasa tak dianggap lagi. ‘’aku juga  merasa kesepian saat berbicara dengan mereka put.’’ Antara kecewa dan sedih, aku dan Dhea mencoba bertahan dalam situasi ini.
Rasanya sakit sekali saat kehadiran kami tak lagi diharapkan. Mungkin benar, aku dan Dhea tidaklah menguntungkan bagi Chika, bahkan lebih pantas dibilang parasit baginya. Sehingga kami tak mampu lagi bertahan, dan kami meninggalkan mereka perlahan. Kini aku percaya perkataan orang Jawa, jika bersahabat dengan tiga orang itu suatu saat pasti terpecah. Ya seperti yang kita alami sekarang ini.
Meskipun Tuhan menyukai angka ganjil, namun kurasa tidak pada persahabatan beranggotakan tiga. Yang lama akan tergantikan dengan yang baru, bukankah begitu teorinya?
Sahabat adalah mereka yang tak meninggalkan kita meski kehidupan baru mendatanginya. Mereka akan selalu menjaga sehingga  tak ada pihak yang merasa tersakiti. Mungkin teman-temanku merasa kita yang menghindar, padahal mereka yang meninggalkan.
Chika.. kamu tetap teman kami yang terbaik, mungkin kamu sedang khilaf sekarang. Tapi tenang,  aku dan Dhea tetap menunggu disisni. Sampai kita akan menjadi crigis-crigis yang seperti dulu lagi..
»»  READMORE...

Selasa, 28 Mei 2013

Berkaca Pada Masalalu

Setiap manusia pasti mempunyai keinginan untuk di dengar. Keinginan saling berbagi saat perasaan senang maupun susah. Ehtah  kabar bahagia, entah kabar duka. Semua ingin diutarakan lewat apa saja.
Tempat yang paling melegakan adalah tempat berbagi. Dimana kita bisa mengutarakan segala keluh kesah yang terasa membebani. Tak bisa membayangkan bila di dunia ini tak ada teman bercerita, tak diciptakan dunia maya. Mungkin dada lebih sesak daripada menahan nafas selama beratus hari. Mungkin..
Aku bangga mempunyai keluarga, teman dan dunia maya yang sayang denganku melebihi apapun. Karna mereka setia mendengarkan setiap keluhanku, juga memberi petuah jika langkahku memang salah. Aku ini orangnya suka mengeluh, tapi bukan berarti tak pernah bersyukur, bukan.. Aku hanya kurang pandai menyembunyikan segala perasaan (baca saja orang yang terbuka).
Mungkin saat kita menemukan lawan bicara yang mengajak berfikir saat melakukan perbincangan, percakapan akan lebih menantang. Seperti teman baruku ini, ya bukan teman sih sebenernya, lebih pantas dibilang guru. Guru kosa kata dan racikan kata. Namanya Rian, aku nemu dia di kolong Whatsapp. Orangnya nyambung terus kalo diajak ngobrol, kaya Mie Burung Dara.
Setelah mengalami masa keterpurukan, kamu akan mengalami metamorfosa kehidupan. Dimana kita bisa mengganti masa lalu yang rancu dengan lembaran baru. Tapi tak berarti masa lalu identik dengan hal buruk lho. Seperti yang dikatakan Rian waktu itu. Waktu aku menggoda karna dia belum bisa ngelupain mantan terindahnya, padahal putus udah berapa abad yang lalu hihi.
‘’ngaca pake spion sih, pantes litanya kebelakang mulu.’’ Kataku sedikit mengejek.
‘’spion itu buat pengaman dik, dengan itu kita bisa berjalan aman kedepan.’’ Rian tidak mau kalah.
‘’dengan kata lain, sebuah pelajaran yang menuntun kita kearah benar kak?’’ 
‘’nah, tepat sekali..’’ jawab Rian puas.
Jadi, kaca spion juga mempunyai filosofil. Dengan melihat kebelakang, bukan berarti kita tidak bisa berfikir maju. Saat kita akan menyelip kendaraan yang ada di depan, pastikan jika di belakang tak ada halangan yang dapat membahayakan. Coba bayangkan bila tak ada bantuan kaca spion, besar kemungkinan kita akan celaka.
Begitu juga hidup. Tak ada salahnya berkaca pada masalalu. Kita akan ingat dimana tempat dulu pernah terjatuh, dan kenapa bisa terjatuh. Kita akan sadar bahwa jalan yang dilewati saat itu tidak benar, cara untuk melidungi diri juga salah. Maka pada saat melewati jalan yang sama, kita sudah bisa menghindari kesalahan yg dulu pernah menjatuhkan.
Begitu berartinya sebuah pengalaman, dapat menyelamatkan semua insan dari kesalahan. Begitu juga teman bercerita, dimana tempat untuk berbagi pengalaman yang berarti..
»»  READMORE...

Jumat, 10 Mei 2013

Bunga yang rapuh..

Tak butuh waktu yg lama untuk kita agar bisa saling memahami. Awal pertemuan yang sangat berkesan, di iringi bahagia yg bertaburan. Entah  apa yg membuat diriku nyaman ketika dihadapmu, serontai hati ini luluh melihat mata yang begitu teduh.
Dari kuncup sampai mekar, ahirnya bunga ini kau petik pada waktu yang cantik. Dengan harapan, kita bisa saling menjaga bunga ini agar tak pernah layu termakan waktu. Ku biarkan perasaan ini terus tumbuh dalam hati yg bergemuruh. Ku biarkan rindu ini terus berjalan menghampirimu.
Hanya sekedar ucapan selamat malam, aku bisa tidur dengan tenang. Lalu aku terbiasa bangun dan tersenyum setelah kau sapa disetiap pagiku. Saat kita bersimpangan, selalu ada canda yang membuatku candu. Tawa yang  menyuruh kita melupakan waktu.
Kamu memang tak pandai merayu,tapi aku pernah jatuh tersipu malu dihadapmu. Ketika kau usap penutup kepala ini dengan sapu tangan, seraya kau katakan. Aku tetap cantik meski muka ini lusuh berantakan terguyur hujan. 
Tak ada yang lebih indah selain melewati hari bersamamu. Dan kurasakan damai dalam  pelukmu. Begitu juga dengan uluran tangan, selalu menghangatkan ketika ku mengeluh kedinginan. Sungguh aku tak ingin melewatkan.
Kita selalu melangkah dengan pelan. Tanpa sadar terlalu jauh kau berjalan. Menghampiri titik kejenuhan, yang menikam perasaan.
Kini ku berjuang sendirian. Menopang tangkai bunga yang semakin rapuh, mempertahankan agar tak menjadi runtuh. Namun  sikapmu yang diam dan membisu, hanya membuat bunga ini semakin layu.
Kita memang pandai dalam hal menjatuhkan cinta, tapi tidak dalam hal mempertahankannya.
Tangkai bunga sudah mati. Kau pergi meninggalkan duri yang menyayat hati. Ego yang telah memisahkan, bukan kita yg menginginkan. Aku tak akan menemukan seseorang sepertimu, yang jelas aku akan mendapatkan penggantimu.

»»  READMORE...