Kamis, 01 November 2012

Karena Dunia Penuh Sandiwara


Bagiku dunia ini sebuah pementasan drama yang penuh sandiwara. Dimana Tuhan sebagai sutradara, dan kita semua menjadi peran utama.
Segala aspek kehidupan mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, persahabatan maupun kisah cinta. Semua memiliki alur cerita yang berbeda namun tetap mengandung unsur yang sama, iya sandiwara tentunya :)
Oke coba kita lihat satu-persatu. Yang pertama dalam sebuah keluarga, ketika seorang anak berubah menjadi rajin. Itu hanya sandiwara saja agar mendapatkan apa yang di minta. Ingin dibelikan kamera putar-putar atau kendaran stang bundar misalnya..
Lalu di dalam sekolah, bagi seorang siswa yang setiap hari harus duduk di bangku selama kurang lebih 400 menit amatlah berat. Tak heran banyak siswa yang ijin ke belakang (untuk jajan), ijin ke UKS (untuk menghindari guru killer) dan minta dispensasi pulang (untuk bertemu pacar). Semuanya tak lepas dari kata sandiwara bukaan?
Di dalam kehidupan, kita memang mempunyai banyak teman, yang berada di rumah, sekolah, luar sekolah maupun di uber sosial. Tapi ciyus semuanya teman? teman yang memuji di depan dan saling menjatuhkan di belakang? :). Haaaii, kita ini hidup di dunia sandiwara dimana ketulusan semakin diragukan. Dimana sulit membedakan antara topeng dan sungguhan.
Kisah cinta juga tak pernah luput dari sandiwara. Sebuah drama pun dimulai dari kenalan --> gebetan --> pacaran --> selingkuhan --> sampai dengan mantan. Dimana setiap fase yang terjadi pasti mengundang air mata karena pahitnya sandiwara cinta. Antara mulut dengan perasaan sering berbanding terbalik, saat kita terbelik dalam sebuah drama. Berbicara masalah cinta memang abstrak, dengan isi hati yang sulit ditebak.
Mau dimanapun kita bersembunyi, sandiwara akan terus mengikuti.
Mau kemanapun kita menghindar, sandiwara akan terus mengejar.
Karena kita hidup di dunia, ber-atsmosfer-kan sandiwara dengan kandungan pura-pura di dalamnya :)

0 komentar:

Posting Komentar